Mantingan sebuah desa di sebelah barat daya kota Jepara, di bawah administrasi kecamatan tahunan, kabupaten jepara. Bagi umat muslim mendengar desa Mantingan, yang pertama akan terlintas adalah keberadaan Masjid Mantingan dan sejarah kerajaan Mantingan.
Sahabat muslim, sebelum kita membahas tentang Masjid Astana Mantingan, Islam Historia akan mengupas terlebih dahulu tentang sejarah Sultan Hadlirin dan Ratu Kalinyamat.
Sultan Hadlirin atau Sunan Mantingan memiliki nama asli Pangeran Toyib, dilahirkan di Aceh putra dari Sultan Mughayat Syah yang memerintah Kasultanan Aceh dari kurun waktu tahun 1514 sampai dengan tahun 1528. Pada masa mudanya Pangeran Toyib berkelana untuk mencari ilmu sampai ke negeri china. Di sana diangkat anak oleh Tjie Hwio Gwan, dan diberi nama Tjie Bin Thang. Bersama dengan ayah angkatnya beliau kemudian berangkat ke Jawa untuk berdagang, namun na'asnya sebelum sampai ke tujuan, kapal beliau karam dan terdampar di sebuah tempat di pesisir utara pantai Jawa, di daerah Jepara. Tjie Bin Tang menetap di Jepara, oleh masyarakat setempat dipanggil Win Tang, karena susah menyebut nama Tjie Bin Thang.
Selama kehidupan barunya di Jepara, Win Tang bersama ayah angkatnya sempat berguru pada Sunan Kudus, dan meneruskan syiar Islam di daerah Jepara hingga kemudian nama beliau dikenal sampai Kasultanan Demak yang saat itu dipimpin oleh Sultan Trenggono yang memerintah dari tahun 1521 sampai tahun 1546.
Pada tahun 1536 Win Tang menikah dengan putri Sultan Trenggono yang bernama Retno Kencono atau Ratu Kalinyamat, yang telah memimpin Kerajaan Kalinyamat sejak tahun 1527. Saat itu Kerajaan Kalinyamat adalah Kadipaten di bawah pemerintahan Kasultanan Demak. Mulai tahun 1536 bersama dengan Ratu Kalinyamat Win Tang kemudian memerintah Kerajaan Kalinyamat bergelar Sultan Hadlirin. Pada saat masa pemerintahan beliau inilah seni ukir Jepara mulai berkembang, ayah angkat beliau diberi jabatan Patih yang bergelar Sungging Badar Duwung. Patih Sungging inilah yang mengajarkan seni ukir Jepara kepada masyarakat setempat.
Pada tahun 1549, Sunan Prawoto sebagai penerus tahta Sultan Trenggono, meninggal setelah dibunuh oleh orang suruhan Arya Penangsang yang menuntut balas atas kematian ayahnya oleh Sunan Prawoto dalam perebutan tahta Kasultanan Demak. Ratu Kalinyamat adalah adik dari Sunan Prawoto, mengetahui bahwa peristiwa tersebut didukung oleh Sunan Kudus bersama Pangeran Hadlirin Ratu Kalinyamat datang ke Kudus untuk meminta penjelasan dari Sunan Kudus, dalam perjalanan pulang menuju Jepara, mereka dihadang oleh pasukan Arya Penangsang, terjadilah pertempuran yang mengakibatkan kematian Sultan Hadlirin. Sultan Hadlirin atau Sunan Mantingan dimakamkan di Astana Mantingan.
Sepeninggal Pangeran Hadlirin, mulai tahun 1549 Kerajaan Kalinyamat kemudian dipimpin sendiri oleh Ratu Kalinyamat. Dan masa itu pula Kasultanan Demak berakhir, sehingga Kalinyamat berdiri sendiri menjadi Kerajaan dengan wilayah kekuasaan mulai dari Jepara, Tayu, Pati, Kudus, sampai Rembang. Pada masa kepemimpinan Ratu Kalinyamat ini perkembangan di bidang Sosial, Politik, dan Militer sangat pesat. Kerjasama perdagangan dan militer dengan kerajaan-kerajaan islam melayu sangat erat, termasuk dalam perjuangan mengusir penjajah Portugis. Oleh sebab itu di kalangan penjajah Portugis, Ratu Kalinyamat ini dikenal sebagai raja wanita yang pemberani dan pantang menyerahah. Ratu Kalinyamat meninggal pada tahun 1579 dimakamkam bersebelahan dengan makam Pangeran Hadlirin suami beliau, di komplek pemakaman Astana Mantingan, kepemimpinan Kerajaan Kalinyamat diteruskan oleh Pangeran Arya Jepara sampai tahun 1599.
Saat ini bukti dari syiar dan perkembangan Islam di Jepara semasa pemerintahan Sultan Hadlirin dan Ratu Kalinyamat yang masih dapat kita temui adalah Astana Mantingan dan Masjid Sunan Mantingan.
Astana dalam bahasa sansekerta adalah sthana yang berarti tempat. Di Jawa Astana biasa juga dipakai untuk penamaan tempat pemakaman raja. Astana Mantingan adalah makam Pangeran Hadlirin, Ratu Kalinyamat, Patih Sungging Badar Duwung, Syeh Siti Jenar, dan keluarga kerajaan Kalinyamat. Satu komplek dengan pemakaman tersebut terdapat Masjid Sunan Mantingan yang diperkirakan dibangun pada tahun 1559, sesuai dengan candrasengkala yang terukir pada mihrab masjid mantingan yang tertulis "Rupo Brahmono Wernosari".
Melihat dari candrasengkala, masjid ini dibangun beberapa tahun setelah meninggalnya Pangeran Hadlirin. Masjid Sunan Mantingan ini merupakan masjid tertua kedua setelah masjid demak yang didirikan oleh Walisongo pada masa pemerintahan Raden Patah.
Masjid Astana Mantingan dibangun dengan campuran antara arsitektur tiongkok dengan jawa. Mulai dari bagian pintu gerbang yang dinamakan Candi Bentar, sebuah Gapura yang berbentuk simetris tanpa atap dari bata merah, model bangunan gapura mirip arsitektur jaman Majapahit. Masuk ke dalam area masjid, kita akan melihat teras masjid yang dibangun cukup tinggi, dengan anak tangga dan lantai masjid terbuat dari ubin yang didatangkan dari tiongkok. Masuk ke bagian teras masjid kita akan melihat hiasan-hiasan tembikar di dinding masjid yang berbentuk piring bulat berwarna biru dan beberapa relief ukir yang terbuat dari batu putih. Relief ukir ini memiliki pola salur-salur tanaman ada yang berbentuk bulat, segitiga, dan segi enam. Di dalam bangunan utama masjid terdapat Mihrab berukir di sisi kanan depan, pada mihrab tersebut tertulis candrasengkala yang menunjukkan tahun pembangunan Masjid. sedangkan pada bagian imam masjid berbentuk lengkung pada bagian atas dengan hiasan-hiasan relief ukir. Masjid ini telah direnovasi beberapa kali, sehingga beberapa bagian kemungkinan sudah menghilangkan bentuk asli bangunan tersebut.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar